KOMPASMANIA.COM - Sebagai sarjana Farmasi yang sedang menempuh
Program Profesi Apoteker di salah satu Universitas di Yogyakarta, saya
merasakan banyak hal yang membuat Apoteker menjadi profesi yang Absurd.
1. Kurikulum Pendidikan
Seorang mahasiswa farmasi dan
apoteker dituntut untuk tahu segalanya. Kami harus tahu tentang kimia,
biologi, fisika, rancangan mesin, hukum dan undang-undang, etika,
bisnis, rancangan obat, komunikasi, ilmu teknik, perpajakan, manajemen,
dll. Sayangnya, kami hanya diberikan ilmu-ilmu itu secara dangkal
sehingga pada akhirnya banyak yang tidak kami pakai karena tidak kami
kuasai. Saat ilmu itu dibutuhkan pun kami harus belajar dari awal lagi
karena kami tidak pernah mendalami ilmu tersebut.
Sebetulnya apoteker itu akan jadi
apa? Ahli obat? Ahli mesin? Ahli hukum? Ahli Bisnis? Atau ahli
segalanya? Kenapa kami tidak fokus belajar pada hal yang seharusnya kami
kuasai yaitu obat dan kimia?
2. Lapangan Pekerjaan
Saat saya membaca lowongan kerja
di PMA-PMA industri farmasi yang ada di Indonesia, saya terhenyak karena
tidak ada satu pun lowongan untuk apoteker di bagian RnD, formulasi,
analisis yang katanya menjadi lahan kerja apoteker Industri. Yang
dibutuhkan hanyalah teknik pangan, teknik industri, teknik kimia, dan
teknik lainnya. Ini menunjukkan bahwa fakultas lain dianggap lebih baik
daripada apoteker.
Saat masuk dunia marketing yang,
lagi-lagi katanya, milik apoteker, banyak terdapat lulusan fakultas lain
selain farmasi yang tidak ada hubungannya dengan obat (tata kota,
psikologi, lulusan SMA). Jadi, sebenarnya apoteker itu harus kerja di
mana? Pekerjaan seperti apa yang hanya bisa dilakukan oleh apoteker?
3. Tugas
Tugas apoteker adalah mengatur produksi, distribusi
obat hingga sampai dengan baik kepada konsumen dan tetap berkualitas.
Akan tetapi, produksi sekarang bisa dilakukan oleh orang yang bukan
apoteker. Penjaminan mutu pun bisa dilakukan oleh yang bukan apoteker.
Begitu pula distribusi obat. Dokter saja bisa memberikan obat ke pasien
secara langsung.
4. Penghasilan
Apoteker yang jaga di apotek ada yang digaji
1500000 sebulan. Untuk apa 1500000/bulan? Padahal untuk mendapat gelar
apoteker, kami harus membayar kuliah mahal. Di Universitas saya saja,
farmasi adalah fakultas paling mahal. Belum lagi waktu pendidikan 5
tahun (4 tahun S1 dan 1 tahun apoteker). Bandingkan dengan dokter yang
bisa berpenghasilan hingga 5 juta.
Tulisan ini dibuat bukan karena saya kecewa
menjadi Apoteker. Saya bangga menjadi Apoteker karena bisa melayani
masyarakat dan membantu meningkatkan kesehatan masyarakat. Tulisan ini
dibuat supaya pembaca mengerti tentang sulitnya menjadi apoteker dan
dilemma yang dijalani apoteker.





