Friday, 29 March 2013

Apoteker, Profesi yang Tidak Jelas di Indonesia

KOMPASMANIA.COM - Sebagai sarjana Farmasi yang sedang menempuh Program Profesi Apoteker di salah satu Universitas di Yogyakarta, saya merasakan banyak hal yang membuat Apoteker menjadi profesi yang Absurd.

1. Kurikulum Pendidikan
Seorang mahasiswa farmasi dan apoteker dituntut untuk tahu segalanya. Kami harus tahu tentang kimia, biologi, fisika, rancangan mesin, hukum dan undang-undang, etika, bisnis, rancangan obat, komunikasi, ilmu teknik, perpajakan, manajemen, dll. Sayangnya, kami hanya diberikan ilmu-ilmu itu secara dangkal sehingga pada akhirnya banyak yang tidak kami pakai karena tidak kami kuasai. Saat ilmu itu dibutuhkan pun kami harus belajar dari awal lagi karena kami tidak pernah mendalami ilmu tersebut.
Sebetulnya apoteker itu akan jadi apa? Ahli obat? Ahli mesin? Ahli hukum? Ahli Bisnis? Atau ahli segalanya? Kenapa kami tidak fokus belajar pada hal yang seharusnya kami kuasai yaitu obat dan kimia?

2. Lapangan Pekerjaan
Saat saya membaca lowongan kerja di PMA-PMA industri farmasi yang ada di Indonesia, saya terhenyak karena tidak ada satu pun lowongan untuk apoteker di bagian RnD, formulasi, analisis yang katanya menjadi lahan kerja apoteker Industri. Yang dibutuhkan hanyalah teknik pangan, teknik industri, teknik kimia, dan teknik lainnya.  Ini menunjukkan bahwa fakultas lain dianggap lebih baik daripada apoteker.
Saat masuk dunia marketing yang, lagi-lagi katanya, milik apoteker, banyak terdapat lulusan fakultas lain selain farmasi yang tidak ada hubungannya dengan obat (tata kota, psikologi, lulusan SMA). Jadi, sebenarnya apoteker itu harus kerja di mana? Pekerjaan seperti apa yang hanya bisa dilakukan oleh apoteker?

3. Tugas
Tugas apoteker adalah mengatur produksi, distribusi obat hingga sampai dengan baik kepada konsumen dan tetap berkualitas. Akan tetapi, produksi sekarang bisa dilakukan oleh orang yang bukan apoteker. Penjaminan mutu pun bisa dilakukan oleh yang bukan apoteker.  Begitu pula distribusi obat. Dokter saja bisa memberikan obat ke pasien secara langsung.

4. Penghasilan
Apoteker yang jaga di apotek ada yang digaji 1500000 sebulan. Untuk apa 1500000/bulan? Padahal untuk mendapat gelar apoteker, kami harus membayar kuliah mahal. Di Universitas saya saja, farmasi adalah fakultas paling mahal. Belum lagi waktu pendidikan 5 tahun (4 tahun S1 dan 1 tahun apoteker). Bandingkan dengan dokter yang bisa berpenghasilan hingga 5 juta.
Tulisan ini dibuat bukan karena saya kecewa menjadi Apoteker. Saya bangga menjadi Apoteker karena bisa melayani masyarakat dan membantu meningkatkan kesehatan masyarakat. Tulisan ini dibuat supaya pembaca mengerti tentang sulitnya menjadi apoteker dan dilemma yang dijalani apoteker.


 
Design by ThemeShift | Edited by Daily Herza | Pasang Iklan Disini